Oleh: Yulfi Alfikri Noer S.IP., M. AP,Akademisi UIN STS Jambi
JurnalOne.com, JAMBI – Transformasi ekonomi sering dipahami sebagai perubahan struktur produksi, peningkatan investasi, tumbuhnya industri, atau berkembangnya berbagai aktivitas ekonomi yang menghasilkan nilai tambah lebih tinggi. Pemahaman tersebut tidak sepenuhnya keliru.
Namun dalam praktiknya, pembangunan sering kali menjadi terlalu berfokus pada aspek fisik dan ekonomi semata, sementara faktor yang sesungguhnya menentukan keberhasilan transformasi justru kurang mendapatkan perhatian yang memadai, yaitu manusia.
Padahal sejarah pembangunan menunjukkan bahwa tidak ada negara, daerah, maupun masyarakat yang berhasil melakukan lompatan ekonomi hanya karena memiliki sumber daya alam yang melimpah.
Kekayaan alam memang dapat menjadi modal awal pembangunan, tetapi tidak pernah menjadi jaminan keberhasilan pembangunan. Sebaliknya, kemajuan ekonomi yang berkelanjutan hampir selalu lahir dari kemampuan manusia dalam mengelola sumber daya, menguasai teknologi, membangun kelembagaan, serta menciptakan inovasi yang menghasilkan nilai tambah.
Dalam perspektif tersebut, transformasi ekonomi sesungguhnya bukan sekadar perubahan pada komoditas, industri, atau teknologi.
Transformasi ekonomi pada hakikatnya adalah proses perubahan kapasitas manusia. Ketika manusia berkembang, produktivitas meningkat. Ketika produktivitas meningkat, nilai tambah tercipta. Ketika nilai tambah tercipta, kesejahteraan masyarakat pun bergerak naik. Karena itu, perubahan ekonomi yang berkelanjutan selalu berakar pada perubahan kualitas manusia yang menggerakkannya.
Gagasan tersebut memiliki landasan teoritis yang kuat. Ekonom peraih Nobel tahun 1979, Theodore W. Schultz, dalam karyanya Investment in Human Capital (1971), menjelaskan bahwa pendidikan, kesehatan, keterampilan, dan pengetahuan bukan sekadar kebutuhan sosial, melainkan bentuk investasi yang memiliki nilai ekonomi. Schultz memperkenalkan konsep human capital atau modal manusia dan menunjukkan bahwa peningkatan kualitas manusia merupakan salah satu faktor utama yang menjelaskan mengapa sebagian negara mampu tumbuh lebih cepat dibanding negara lain.
Pemikiran Schultz kemudian diperkuat oleh Gary S. Becker, peraih Nobel Ekonomi tahun 1992, melalui karya monumentalnya Human Capital (1964). Becker menunjukkan bahwa investasi pada pendidikan, pelatihan kerja, dan kesehatan menghasilkan manfaat ekonomi yang nyata, baik bagi individu maupun bagi perekonomian secara keseluruhan. Dalam pandangannya, pembangunan manusia bukanlah beban pembangunan, melainkan investasi produktif yang akan menentukan daya saing ekonomi suatu bangsa dalam jangka panjang.
Pandangan yang lebih luas dikemukakan oleh Amartya Sen, peraih Nobel Ekonomi tahun 1998, melalui bukunya Development as Freedom (1999).
Menurut Sen, pembangunan tidak cukup dipahami sebagai peningkatan pendapatan atau pertumbuhan ekonomi semata. Pembangunan pada dasarnya adalah proses memperluas kapabilitas manusia (capability expansion), yaitu kemampuan masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik, hidup lebih sehat, bekerja secara produktif, serta memiliki kesempatan yang lebih luas untuk mengembangkan potensinya.
Dalam perspektif ini, manusia bukan hanya tujuan pembangunan, tetapi sekaligus pelaku utama pembangunan.
Pemikiran tersebut menjadi semakin relevan di tengah perubahan ekonomi global yang berlangsung sangat cepat.
Revolusi digital, kecerdasan buatan, otomatisasi industri, dan perubahan pola konsumsi telah mengubah cara nilai tambah diciptakan. Peter F. Drucker dalam Post-Capitalist Society (1993) menegaskan bahwa dalam ekonomi modern, pengetahuan telah menjadi faktor produksi yang paling penting. Keunggulan suatu negara, daerah, maupun perusahaan tidak lagi semata ditentukan oleh kepemilikan sumber daya alam, tetapi oleh kemampuan manusianya dalam menghasilkan inovasi, menguasai teknologi, dan beradaptasi terhadap perubahan.
Pengalaman berbagai negara juga menunjukkan bahwa transformasi ekonomi yang berhasil hampir selalu didahului oleh transformasi manusia. Ketika membahas keberhasilan Jepang, perhatian sering diarahkan pada industrialisasi yang mendorong kebangkitan ekonominya pasca perang. Ketika membahas Korea Selatan, yang sering menjadi sorotan adalah keberhasilan membangun basis manufaktur berorientasi ekspor.
Sementara Singapura kerap dipandang sebagai contoh keberhasilan menarik investasi dan membangun pusat perdagangan serta logistik global.
Namun jika ditelusuri lebih jauh, keberhasilan ketiga negara tersebut tidak lahir semata-mata dari pembangunan industri, ekspor, atau investasi. Sebelum seluruh transformasi ekonomi itu terjadi, mereka terlebih dahulu melakukan investasi besar-besaran pada pembangunan manusia. Pendidikan diperluas, keterampilan tenaga kerja ditingkatkan, penguasaan teknologi diperkuat, budaya belajar dibangun, disiplin kerja ditanamkan, kualitas birokrasi diperbaiki, dan kemampuan masyarakat untuk beradaptasi terhadap perubahan terus dikembangkan.
Dengan kata lain, yang pertama kali mengalami transformasi bukanlah industrinya, melainkan manusianya. Industri yang maju, teknologi yang berkembang, dan investasi yang tumbuh pada akhirnya merupakan hasil dari meningkatnya kualitas sumber daya manusia yang mampu mengelola seluruh proses pembangunan tersebut.
Pengalaman ini memperlihatkan bahwa kemajuan ekonomi yang berkelanjutan hampir selalu bertumpu pada kapasitas manusia yang berkembang lebih cepat daripada perubahan ekonominya sendiri.
Realitas tersebut membawa konsekuensi yang sangat jelas bagi pembangunan. Investasi pada pendidikan, kesehatan, keterampilan kerja, literasi digital, penelitian, inovasi, dan kewirausahaan tidak lagi dapat dipandang sebagai kebijakan sosial semata. Seluruhnya merupakan investasi ekonomi jangka panjang yang menentukan kemampuan suatu masyarakat dalam menciptakan produktivitas dan daya saing.
Karena itu, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari banyaknya jalan yang dibangun, kawasan industri yang dikembangkan, atau investasi yang berhasil masuk. Infrastruktur dan investasi memang penting, tetapi keduanya hanyalah instrumen pembangunan.
Jalan, pelabuhan, kawasan industri, investasi, hilirisasi, UMKM, BUMDes, Koperasi Merah Putih, bahkan pertumbuhan ekonomi sekalipun pada dasarnya merupakan sarana untuk mencapai tujuan pembangunan yang lebih besar. Faktor yang pada akhirnya menentukan keberhasilan seluruh instrumen tersebut tetaplah manusia yang mengelola, mengembangkan, dan memanfaatkannya.
Nilai ekonomi yang sesungguhnya baru tercipta ketika masyarakat memiliki kemampuan untuk menggunakan instrumen tersebut secara produktif. Jalan dapat membuka akses ekonomi, tetapi manusia yang menentukan bagaimana akses tersebut dimanfaatkan. Industri dapat menciptakan peluang usaha dan lapangan kerja, tetapi manusia yang menentukan apakah peluang tersebut dapat diubah menjadi produktivitas, inovasi, dan kesejahteraan yang berkelanjutan.
Di sinilah pendidikan memiliki posisi yang sangat strategis. Pendidikan bukan hanya sarana untuk meningkatkan tingkat literasi atau menghasilkan tenaga kerja.
Pendidikan merupakan instrumen utama untuk membangun kemampuan berpikir kritis, menyelesaikan masalah, beradaptasi terhadap perubahan, dan menciptakan inovasi. Masyarakat yang memiliki kualitas pendidikan yang baik pada dasarnya sedang membangun fondasi ekonomi masa depannya.
Hal yang sama berlaku pada sektor kesehatan.
Produktivitas ekonomi tidak dapat dipisahkan dari kualitas kesehatan masyarakat. Tenaga kerja yang sehat memiliki kemampuan belajar yang lebih baik, produktivitas yang lebih tinggi, dan daya tahan yang lebih kuat dalam menghadapi perubahan ekonomi.
Karena itu, investasi pada kesehatan sesungguhnya merupakan investasi pada kapasitas ekonomi jangka panjang.
Selain itu, penguatan keterampilan kerja, penguasaan teknologi, dan pembangunan budaya kewirausahaan juga menjadi semakin penting. Perubahan ekonomi modern menuntut kemampuan yang jauh lebih kompleks dibanding masa lalu.
Keterampilan teknis, literasi digital, kemampuan manajerial, kreativitas, dan kemampuan membaca perubahan pasar menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan manusia. Tanpa peningkatan kapasitas tersebut, pertumbuhan ekonomi berisiko hanya menghasilkan perluasan aktivitas ekonomi tanpa diikuti peningkatan kualitas pelaku ekonominya.
Transformasi ekonomi juga membutuhkan kelembagaan yang kuat. Masyarakat tidak berkembang secara individual semata, tetapi melalui institusi yang mampu memperkuat kerja sama, memperluas akses terhadap pembiayaan, teknologi, informasi, dan pasar. Karena itu, penguatan kelembagaan ekonomi, dunia pendidikan, lembaga pelatihan, koperasi, komunitas usaha, serta berbagai organisasi sosial-ekonomi lainnya menjadi bagian penting dari proses transformasi manusia.
Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, keberhasilan suatu daerah maupun suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya alam yang dimiliki atau tingginya angka pertumbuhan ekonomi yang dicapai. Keberhasilan yang sesungguhnya terletak pada kemampuan masyarakat meningkatkan produktivitas, memperluas kapasitas inovasi, memperkuat daya saing, serta menciptakan kesejahteraan yang dapat bertahan dalam jangka panjang.
Sebab pada akhirnya, transformasi ekonomi bukan sekadar transformasi komoditas, bukan sekadar transformasi industri, dan bukan pula sekadar transformasi teknologi. Transformasi ekonomi yang sesungguhnya adalah transformasi manusia. Ketika manusia berkembang, produktivitas meningkat. Ketika produktivitas meningkat, inovasi tumbuh. Ketika inovasi tumbuh, nilai tambah tercipta. Ketika nilai tambah tercipta, kesejahteraan masyarakat dapat dibangun secara lebih berkelanjutan.
Itulah sebabnya investasi terbesar dalam pembangunan sesungguhnya bukan terletak pada apa yang dimiliki suatu negara, daerah, atau masyarakat, melainkan pada manusia yang mampu mengubah potensi menjadi produktivitas, mengubah pengetahuan menjadi inovasi, dan mengubah sumber daya menjadi kemajuan. Di situlah transformasi ekonomi menemukan maknanya yang paling mendasar: transformasi ekonomi pada akhirnya adalah transformasi manusia.(*)













