Derita PKL Pasca di Gusur Pemkab, Motor Ditarik Leasing, Biaya Sekolah Anak Nunggak

JurnalOne.com, BANGKO – Pasca ditertibkan oleh Pemkab Merangin, kodisi ekonomi sejumlah para eks Pedagang Kaki Lima (PKL) sungguh cukup memprihatinkan, Sabtu (07/06/2025).

Salah satunya yang dialami Eni Kusriani (47). Kepada media ini Eni mengaku, sejak  lapaknya digusur dia tak mampu lagi memenuhi kebutuhan keluarga, lantaran tidak bisa berjualan. Modal yang  terkumpul hasil jualan sudah habis buat biaya anak serta suaminya sedang sakit dalam kurun waktu setahun terakhir ini.

“Saya mengantikan suami  berjualan karena dia mengidap penyakit dalam setahun terakhir ini. Kondisinya memburuk, dan membutuhkan banyak biaya perawatan.Oksigennya,75 ribu/tabung 3 jam habis,” kini tidak ada lagi kemasukan sejak digusur,” sebut lEni saat ditemui dirumahnya di Sungai Mas, Jumat (6/6/2025) sore kemaren.

Dikatakan Eni, suami membutuhkan bantuan oksigen terutama pada malam hari. Sedangkan biaya obat, keluarganya terbantukan BPJS. Meski begitu, perlu juga biaya lain seperti perban dan beli pampers. Biasanya terbantu juga dari berjualan.

“Kendati cuma modal papan 3-4 lembar, seng 10 keping,tempat jualan bisa bantu ekonomi keluarga. Sejak tempat dibongkar, gak ada bisa kami buat lagi,” tambahnya.

Kemudian, lanjut Eni, relokasi baru yang ditunjuk Pemkab dikawasan Pasar Bawah juga tidak memadai. Selain sepi, dia meter tempat juga terlalu kecil hanya 1.8 meter. Sedangakan gerobak digunakan sepanjang dua meter.

“Diperkecilkan kita butuh modal. Bikin meja, tempat makan tidak ada. Untuk memulai kembali setidaknya kita butuh modal Rp 8 juta, untuk merombak gerobak, etalase dan modal dagang Rp 1 juta. Belum lagi kebutuhan lain, pembayaran di Koperindag Rp 1,1 juta/tahun,” tutur Eni.

Eni mengatakan, sejak tidak punya penghasilan anak keduanya nyaris putus sekolah. Ia bahkan tak lagi masuk ke sekolah hingga sang guru mendatangi mereka.

“Dari penertiban kemaren gak sekolah. Karena mau sekolah kan anak numpang temannya, butuh uang minyak juga. Uang sekolah juga ngak dibayar, nunggak 4 bulan,” jelas Eni menyebutkan tunggakan sekolah itu Rp 90/bulan.

Beruntung pihak sekolah, SMKN 2 Merangin mendatangi keluarga ini. Sang anak diberi dispensasi terutama ujian akhir ini.

“Gak papa, ujian aja dulu Bu. Langsung anak tu sekolah. Nebeng dengan kawannya,” ungkap Eni menirukan ucapan sang guru.

Beban yang dipikul keluarga ini, semakin berat terutama setelah anak 1, Indri Liani (23). Indri yang juga berjualan, PKL di pasar bawah, harus kehilangan motor kesayangannya. Ia tak mampu membayar angsuran motor Scoopy karena tak punya penghasilan lagi dari jualan minuman teh ringan.

“Nunggak 2 atau 3 bulan, dak punya uang lagi. Dari pada nama rusak, ya motornya dikembalikan. Sekarang kerjanya di rumah makan,”tukasnya.(*)